Sabtu, 15 Januari 2011

Perusahaan dalam Perbaikan Lingkungan

Perusahaan adalah suatu badan hukum (bisa ada karena dilegalkan oleh suatu pemerintah negara) yang dibentuk sebagai wadah bagi pemiliknya untuk mengusahakan keuntungan dan pekerjanya untuk mengusahakan nafkah hidup. Dalam konteks sistem industri, perusahaan adalah gabungan dari man, money, machine, material dan method. Skala perusahaan dapat diukur dari berbagai macam sudut pandang, misalnya wilayah operasi, jumlah pekerja, besaran aset yang dikelola, pendapatan/sales/revenue tahunan dsb. Biasanya perusahaan memfokuskan diri pada suatu jenis/klasifikasi usaha; misalnya asuransi, perdagangan komoditas, pertanian, food and beverages, pertambangan, perbankan, telekomunikasi, teknologi informasi, pertambangan, kimia, transportasi dsb. Dari sudut pandang klasifikasi ini kemudian diambillah suatu kebijakan ekonomi makro oleh otorita. Betapapun mikro-nya, seorang pedagang nasi goreng gerobak juga dapat dianggap sebagai perusahaan.

Dalam perjalanan 2 dekade ini, kita telah menyaksikan berbagai kemalangan (misfortune) yang menjadi resultan ke-aktif-an dan/atau ke-nonaktif-an perusahaan. Kemalangan ini berbentuk seperti lenyapnya tabungan/investasi nasabah, kandungan racun kimia dalam bahan pangan dan air bersih, ancaman phk dalam skala massal dan fluktuasi pasokan dan harga bahan-bahan pokok. Disisi lain, perusahaan dengan keahlian yang pas sebetulnya juga dapat memilih untuk aktif mencegah banjir pemukiman kota tanpa invoice dalam kewajaran arus kas. Selain itu, perusahaan juga bisa memilih tidak riya' dalam melakukan CSR kepada masyarakat. Permasalahan yang dipaparkan diatas sebetulnya lebih sedikit tentang aturan pemerintah dan/atau desakan masyarakat, dan lebih banyak tentang kesadaran dalam diri pemilik, pimpinan dan profesional perusahaan bahwa bekerja adalah ibadah.

Tabligh intrasektoral dan intersektoral

Tabligh, adalah suatu predikat sikap dan sifat nabi-nabi. Tabligh dalam arti bahasa berarti menyampaikan dengan terang dan jelas. Di era ini, arti, pelaksanaan dan tujuan tabligh, menjadikan satu makna sinergi, knowledge management, organization development, keberanian, governed, teratur, konsisten, integritas, amal saleh, kekompakan, perbaikan diri, perbaikan cara dan perbaikan lingkungan. Bertabligh memfasilitasi terbentuknya indvidu yang membangun sistem, yang mana kemudian mengarah menuju suatu tujuan/visi. Bertabligh-pun memiliki tahapan; dimulai dengan penyampaian akan nilai-nilai (sosialisasi), kemudian tahapan pemikiran dan pemaknaan (internalisasi), kemudian merubah pemikiran dan pemaknaan tersebut menjadi aktivitas nyata melalui latihan kerja (pembentukan), kemudian dilanjutkan dengan pengarahan aktivitas kepada hasil; yaitu penyusunan barisan, koordinasi dan kontrol aktivitas (strukturalisasi). Yang kelima adalah mengarahkan hasil pada tujuan (operasionalisasi).


[Diagram Big Change Dynamics by Sector oleh Steve Waddell]

Marilah kita simak diagram diatas yang ditulis dalam buku Societal Learning and Change oleh Steve Waddell. Dari diagram dapat kita fahami bahwa kita hidup sebagai profesional dalam suatu market system, sebagai warga negara dalam suatu state system dan sebagai masyarakat biasa dalam suatu civil society. Masing-masing sektor mempengaruhi satu sama lain dan juga di didalam sektor itu sendiri. Pengaruh ini dapat berperan secara positif maupun negatif terhadap stabilitas sektor. Kenyataan lapangan memang lebih kompleks dari tiga sektor yang tergambar dalam diagram diatas, dimana sektor juga bisa dipandang dari sudut pandang bidang/jenis usaha, disiplin ilmu, geografis, demografis dan psikografis. Diagram diatas hanya dipergunakan untuk memulai pemikiran dan memahami makna intersektoral dan intrasektoral.

Sampai bagian ini, penulis berharap pembaca dapat memahami istilah tabligh intersektoral dan intrasektoral, dengan preferensi penggunaan kata tabligh dan bukan sinergi, kerjasama atau kooperasi karena makna tabligh yang lebih mengena dan selaras dengan artikel ini.

Pengorganisasian dan Struktur

Ada 2 jenis usaha yang secara rasional dapat mengupayakan tabligh intersektoral dan intrasektoral secara formal, organisasi itu adalah konglomerasi usaha dan lembaga keuangan. Selain itu tabligh intersektoral juga diupayakan oleh pemerintah negara dan organisasi masyarakat. Dari sudut pandang bottom-up (mikro), perusahaan UKM-pun dapat mengupayakannya dalam interaksinya dengan perusahaan lain, institusi pemerintah terkait serta aktifnya insan perusahaan dalam sektor sosial kemasyarakatan. Dari pandangan top-down maupun bottom-up, dalam ber-tabligh para pihak diharapkan dapat mengkombinasikan unique strength dan meng-offset weakness, sehingga mengoptimalkan manfaat sosial secara lebih luas.


[Diagram Society Learning & Change Structure oleh Steve Waddell]

Steve Waddell juga memaparkan bahwa society learning and change (SLC) dilakukan dengan inisiatif berbasis network. Setiap tipe network menentukan kemampuan network menghasilkan output dan juga menentukan tingkat/jenis keahlian yang dibutuhkan dalam mengelolanya. Proses utama didalam network mencakup pergerakan dalam pendayagunaan data --> menjadi informasi --> menjadi knowledge --> menjadi hikmah --> kemudian menjadi aksi yang memberikan dampak pada lingkungan. Sebagai penguraian, berbagai tipe network didaftarkan oleh Steve Waddell berdasarkan proses, dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks, daftar tersebut adalah sebagai berikut:
  • INFORMATION NETWORK This is the most often what people think of when they think of a 'network'. Through it, participants share information about a common interest, with bonus on them to do so. It does not develop a common agenda.
  • KNOWLEDGE NETWORK The goal is to produce new knowledge, skills and tools for those in the network. It has a defined research agenda, and participation allows sharing costs and enhancing access to data.
  • COMMUNITY OF PRACTICE Participants share and developed information, knowledge, wisdom and capacity. This requires deep dialogue, open sharing and self-organized, joint-action development agenda. Benefits of participation include much more rapid development of solid an robust answers to questions and common interest.
  • TASK NETWORK When people want to undertake a specific task that requires diverse resource and co-ordination of action, they may form a network that dissolves after completion.
  • PURPOSEFUL NETWORK Often an issue requires ongoing attention by a group of people or organization, and they come together to co-oordinate their action, they may form a network that dissolves after completion.
  • SOCIETAL CHANGE NETWORK This type of network produces SLC among members who are inter sectoral. The members are issue stakeholders, who undertake deep dialogue and open sharing, and collectively co-ordinate and synergistic action. The change requires their collective competence and networks.
  • GENERATIVE CHANGE NETWORK SLC is also produced by this type of network, but the goal is to generate innovation/change/action beyond the participant boundaries. The work is done for network members and those beyond – expanding participation and influence is important. Again, it requires deep dialogue and open sharing, and collective coordinated an synergistic action. The work is done collaboratively because it requires collective competences and scales.
Pengklasifikasian diatas dapat dijadikan referensi, namun jangan sampai membelenggu upaya perbaikan lingkungan dan terjebak dalam kalam definisi. Karena pada semestinya, jiwa kebersamaan dan gotong royong adalah suatu suratan bagi yang meyakini, lagi pula pahit-getirnya individualisme telah dan sedang dirasakan. Klasifikasi diatas dapat dihormati sebagai simplifikasi kenyataan lapangan untuk menjadi suatu penerangan bagi yang kurang faham. Ambil saja intisari pesan baiknya, “bahwa perbaikan lingkungan (1) membutuhkan sumber daya kolektif dari banyak stakeholder (2) pelaksanaannya tidak boleh semrawut dan (3) harus didasarkan atas hubungan saling percaya antar stakeholder agar deep dialogue, open sharing serta collectively coordinated and synergistic action dapat direalisasikan”. Sebagai akhir pesan di bagian ini, perlu pembaca fahami, bahwa kedudukan aturan klasifikasi diatas adalah rendah… sangat dan jauh lebih rendah dibandingkan firman Allah dibawah ini:

Verily, Allah loves those who fight in His Cause in rows (ranks)
as though they were a (single) structure joined firmly.

[Al Quran, surat ke-61: As Saf, ayat 4; dari terjemahan Muhsin Khan dan Sahih International]

… dan demikian juga sangat rendahnya kedudukan artikel-artikel penulis dibandingkan dengan firman Allah. Oleh karenanya janganlah kemudian karangan penulis, ataupun klasifikasi Steve Waddell dijadikan kekangan dalam berbuat baik.

Sabar, Merdeka dan Produktif

Setiap negri dihadapkan pada resiko mubazirnya sumber daya akibat ketidakselarasan proyek-proyek intersektoral dan intrasektoral. Terjadinya resiko kemudian biasanya dilanjutkan dengan drama tunjuk menunjuk antara calon kambing hitam di dalam dan/atau di luar negri. Wadah formal intersektoral yang niat awalnya adalah sarana kerjasama dalam membangun insan dijadikan sasana kompetisi dan penguasaan oleh individu perusahaan. Kecenderungan ini-pun terjadi di dalam wadah informal intrasektoral (tanpa menafikkan pentingnya sosialisasi/silaturahmi).

Kondisi diatas mengakibatkan tidak kondusifnya kerjasama karena permasalahan trust, akibatnya... apa boleh buat... masukan dan keluaran wadah harus dibersihkan dahulu agar dapat diketahui mana yang informasi, dis-informasi dan noise, sebelum menterjemahkannya dalam melaksanakan aksi. Pembersihan ini memakan waktu dan tenaga, karena pengupayaannya adalah melalui pengecekan langsung ke lapangan, diskusi dengan berbagai stakeholder di penjuru negri, gerilya di warung-warung kopi dan working level, penyusunan ulang data-data dan informasi berikut analisa serta sintesis-nya, permintaan kesaksian konfirmasi dari penerbit informasi yang berintegritas didalam wadah, dsb. Namun demikian, hal ini jauh lebih baik dibandingkan menelan mentah-mentah kesimpulan top-down yang dibuat berdasarkan data yang korup dan/atau tenaga ahli yang tidak sungguh-sungguh bekerja. Mendasarkan aksi pada informasi yang sah secara de jure tidak akan membuat anda masuk penjara, namun penulis berharap pembaca dapat merasakan suatu kenikmatan hidup dan senyum bahagia ketika melaksanakan aksi berdasarkan informasi yang terkonfirmasi secara de facto. Besar kemungkinan kondisi dapat menjadi lebih baik apabila pemimpin dan profesional menimbang manfaat dan mudarat secara ekosistem, dibandingkan sekedar menjalankan formalitas atau melaksanakan keputusan impulsif.

Amanah negri dan lingkungan mudah terlupakan oleh profesional peniti karir dan pengusaha peniti laba, walaupun satu dekade lalu ia memulainya dengan suatu niatan suci. Kemudian kita temukan individu-individu tersebut sedang asyik ditengah kompetisi, harga diri, jalan pintas relasi dan akumulasi kemewahan… malas belajar tetapi khawatir tergilas "rekan" dan zaman. Untuk pertama kalinya dalam blog ini, penulis menyertakan firman-firman Allah dalam artikelnya, Insya Allah menjadi efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran. Berharap intisari peringatan dapat masuk bersemayam dalam ingatan, pikiran dan hati... tanpa pupus harapan, bahwa Insya Allah individu yang khawatir dan terlengahkan dapat sadar sehingga berganti hobi asyik menikmati tabligh, menggali knowledge, beramal saleh, lengkap dengan pertempuran hati dan ujian sabar atas terjadinya hantaman-hantaman jiwa dalam perjalanan.

The craving for ever-greater worldly gains and to excel others
in that regards keeps you occupied 
(diverts you from more serious things), 
until you visit your graves. 
But, nay, you soon shall know (the reality). 
Again, you soon shall know! 
Nay, were you to know with certainty of mind
(what your attitude will lead to, 
you would never have acted the way you do).
You shall certainly see Hell Fire! 
Again, you shall see it with certainty of sight.
Then shall you be questioned that Day about the joy 
(you indulged in)!

[Al Quran, surat ke-102, At Takasur; dari terjemahan Yusuf Ali & Maulana Maududi]

Memerdekakan diri juga berarti sabar/tabah/tekun atas tabir produktifitas dan pengekangannya. Yang paling awal perlu dibahas adalah tentang norma predikat tenaga ahli dan kampiun industri. Pendalaman keahlian teknis dalam suatu bidang ilmu dan keahlian non-teknis industri mutlak untuk lebih terjaminnya penyelesaian permasalahan kerja. Namun fokus tadi tidak berarti kita mengeksklusifkan diri dari mempelajari bidang lain atau bercengkerama dengan sektor lain. Sangat terkait dengan peringatan dalam At-Takatsur, paradigma predikat menjebak dan membelenggu diri sehingga menghalangi tabligh intersektoral dan intrasektoral.

Yang berikutnya perlu dibahas adalah tentang pengekangan produktifitas dari kualitas kerja dalam setiap man-hour, yang mana kualitas adalah cermin dari bekerja sungguh-sungguh. Untuk mengekangnya, kompetisi dapat bekerja kedalam sistem dan pola berpikir untuk membuat perasaan sedih dan khawatir yang menyebabkan insan profesional berkonsentrasi hanya pada satu hal saja dan terpalingkan dari hal-hal lain yang juga penting, sehingga mengganggu efektifitas dan efisiensi sistem secara keseluruhan. Selain kompetisi, kejadian kehidupan secara alamiah juga dapat mengakibatkan hilangnya konsentrasi. Karena sudah menjadi suatu kepastian bahwa perasaan sedih dan khawatir akan menghampiri sepanjang kehidupan ini, maka kesabaran dan ketabahan Insya Allah akan manjur dalam menghadapinya. Tidak lengkaplah pertahanan ini tanpa adanya ketekunan penyelesaian masalah, mempelajari sebab-musabab relung-relung permasalahan, pikiran dan hati dalam rangka mencari hikmah. Sedangkan atas terjadinya hantaman-hantaman, karena memang sudah terjadi, keikhlasan akan sangat membantu menawar hati.

Siskamling Intelektual

Apabila pembaca meng-google kata "siskamling", pembaca akan temukan tulisan Muh. Arif Billah. SH dari kota Probolinggo tertanggal April 2010. Dalam tulisannya ia mengatakan, “Kebiasaan dan budaya warga 10 tahun silam yang dilakukan secara gotong royong oleh warga semakin memudar karena kesibukan dan mulai menurunnya nilai-nilai kebersamaan serta menguatnya rasa individualisme. Siskamling yang dahulu peran aktif warga berubah menjadi tugas satpam lingkungan, kebiasaan ronda nyaris tidak terdengar lagi. Pos ronda sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat nongkrong sore atau tempat jualan nasi pecel di pagi hari".

Menambahkan tulisan Muh. Arif Billah, peran siskamling tidak hanya untuk mencegah maling dan teroris dalam konteks teritorial, tetapi juga sebagai suatu konsep dalam kebersamaan melanggengkan lingkungan yang aman dan tentram multi-sektoral. Siskamling mencegah terjadinya resiko hazzard (ATHG: ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan) terhadap lingkungan. Siskamling dilaksanakan berdasarkan kesadaran diri insan profesional dan dilakukan dengan pendekatan di unit yang kecil. Apabila 10 tahun silam unit yang kecil tadi adalah keluarga dan lingkungan, maka sekarang dapat diperkuat dengan unit kerja, bidang ilmu dan sektor industri dimana kita mencari nafkah. Selanjutnya ketika bencana datang, siskamling akan menjadi garda terdepan dalam antisipasi dan menyadarkan warga ketika terlelap. Tidak hanya tugas prajurit yang harus menyadarkan warga untuk menjaga kedaulatan, siskamling-pun ikut berperan dalam wujud konsep bersiap-siaga di perbatasan teritorial geografis dan non-geografis negri. Insya Allah tercipta rasa bahu-membahu dari sebuah siskamling.

O you who believe! Endure and Perserve in patience and constancy; 
vie in such endurance and perseverance, remain steadfast and strenghen each other;
and fear Allah; that you may be successfull

[Al Quran, surat ke-3: Ali Imran, ayat 200; dari terjemahan Yusuf Ali dan Shakir]

Atas perintah dan alasan logika tadi, maka menjadi kewajiban bagi insan profesional untuk saling berbagi kesadaran, hikmah, ilmu dan pengetahuan (knowledge sharing and prosuming). Adapun dalam rangka siskamling sedapat mungkin profesional awas terhadap knowledge trading karena berpotensi menjadi suatu intangible liability yang melemahkan (baca: utang budi). Mengelola hubungan dalam sharing membutuhkan suatu governance yang berdasarkan hubungan saling percaya. Dalam hubungan tersebut, satu sama lain wajib menghormati jerih upaya pihak yang memproduksi knowledge sebagai pemberi solusi, dan menghargai kebutuhan pihak yang mengkonsumsi knowledge sebagai pengguna solusi. Penghormatan dan penghargaan ini tidak berarti memaksakan intellectual property, agar supaya insan negri dapat semakin merdeka, kuat kesabarannya dan produktif.

Penanganan ATHG (ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan) lingkungan dalam siskamling intelektual sangat terkait dengan penanganan kezaliman penyalahgunaan amanah knowledge. Secara konsisten insan profesional dapat saling mengingatkan dan menyadarkan akan dampak penyalahgunaan sebagai pencegahan. Apabila sebelumnya pernah terjadi, mungkin terjadi karena kurangnya tabligh didalam atau diantara sektor. Untuk mendeteksi dan mencegahnya, insan profesional tidak boleh malas belajar dan terus mengaji secara berkelanjutan untuk mencari hikmah. Ada kalanya insan profesional perlu bersikap tegas namun tidak berlebihan untuk menghambat dan meniadakan suatu tabiat yang berakibat buruk bagi lingkungan.

By (the Token of) Time (through the ages),
Surely man is indeed in (sheer) loss,
Except the ones who have believed, and done righteous deeds,
and enjoin each other to the Truth, and enjoin each other to patience/steadfast.

[Al Quran, surat ke-103: Al Asr; dari terjemahan Yusuf Ali dan Dr Ghali]

Tidak tanpa resiko, setiap pelaksana siskamling intelektual juga akan berhadapan dengan prasangka buruk, kecurigaan dan kedengkian. Karena tidak populer, siskamling intelektual juga mungkin menerima resiko sosial seperti pengasingan, celaan dan ejekan, ditambah dengan resiko lain secara fisik dan finansial. Namun demikian, pelaksana dapat menjadikan siskamling intelektual membahagiakan dengan mengikhlaskan keberadaan ATHG dan tersedianya sasana penguatan sabar. Tidak kurang pula pertempuran yang terjadi didalam diri pelaksana, sehingga ia harus konsisten menyapu bersih resultan negatif pemikiran pembanding materialisme. Kemudian selanjutnya dibarengi pengemisan ampun atas kekhilafan kepada Allah SWT dan memohon bantuanNya dalam mengendalikan nafsu. Dalam kesadaraan bahwa Allah-lah penguasa atom pembentuk materi dan medan elektro-magnet di bumi serta angkasa raya. Seluruh materi di bumi dan angkasa raya bertasbih memuji Allah. Dan Allah pula lah zat yang membolak-balikkan hati. Oleh karenanya pelaksana siskamling memohon bantuanNya.

Pelaksana siskamling tidak perlu merasa rendah diri maupun tinggi hati karena kecil-besarnya kedudukan dalam perusahaan atau karena rendah-tingginya kedudukan secara pendidikan, karena sejatinya siskamling adalah aktifitas warga. Siskamling tidak mengenal kasta ataupun dinding pembatas divisi oleh karenanya dapat dilakukan top-down, bottom-up maupun sideways dalam tabligh.

Siskamling intelektual perlu dilakukan optimal, tanpa mengabaikan siskamling lain, terutama di sekitar rumah dan keluarga. Selain bekerja untuk mencari nafkah, insan profesional juga memiliki kewajiban mengurus keluarga secara non materiil. Tidak hanya tentang adanya kecukupan materi dan liburan bersama, dibalik pengupayaan mengurus keluarga dan dinamikanya... ada karunia yang tidak kalah besarnya dibandingkan dikantor. Berhasil tidaknya insan profesional dikaruniai anak/istri/suami yang saleh bukanlah semata-mata karena pengupayaan insan atau penerapan logika-logika psikologi, namun sesungguhnya merupakan karunia dan ketentuan dari Allah SWT.

By the Glorious Morning Light, 
and by the Night when it is still,
Your Guardian Lord has not forsaken you, nor is He displeased,
Surely what comes after will be better for you than the present,
Verily Your Guardian Lord will give you all-good 
so that you will be well-pleased
Did he not found as an orphan and give you shelter?
Did he not found you lost and give you guidance?
Did he not found you in need and give sufficiency?
Therefore, do not treat the orphan with harshness
Nor repulse the petitioner (unheard/seeker of knowledge)
And for all the good that your Lord blessed you with, do announce…

[Al Quran, surat ke-93: Ad Dhuhaa; dari terjemahan Yusuf Ali dan Dr Ghali]

Penutup

Melalui tulisan ini penulis memang melakukan suatu pemaparan persuasif kepada pembaca, dalam kaitannya agar sumbangsih insan profesional perusahaan, sebetapa besar-kecilnya, untuk perbaikan lingkungan. Sebagai penutup, marilah kita simak pesan/sabda peninggalan Rasul Allah, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam:

Sungguh jika seorang muslim (insan yang berserah diri kepada Allah) berinteraksi dengan masyarakat dan sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka (akibat interaksi), lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka.

[HR. at-Tarmidzi, no. 2431/no. 2507]

Dalam kerendahan upaya penulis, teriring salam bagi pembaca:
Walbillahi taufik wal hidayah”…