Senin, 05 Agustus 2019

Sistem Industri: 5M+1

Dalam ingatan penulis bahwa seorang dosen di tahun 90an menekankan suatu pemahaman, bahwa secara substansi, industri terbentuk atas suatu kesatuan dari lima komponen yaitu Man, Money, Materials, Method dan Machine atau dikenal sebagai 5M.

Untuk menjelaskan pemahaman ini; Manusia (man) bekerja dengan suatu cara/metode (method) untuk menghasilkan uang (money). Kemudian uang tersebut dibelanjakan bahan-bahan (materials) untuk diolah dengan suatu cara (method) sehingga menghasilkan suatu produk (materials with added value). Agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi kriteria kualitas tertentu yang diluar kemampuan tangan manusia karena keterbatasannya (misalnya aspek ketelitian), maka diadakanlah suatu perangkat-perangkat pembantu (machine).

Dalam konteks lain; sekelompok orang yang berserikat dapat mengadakan suatu pabrik yang memberdayakan modalnya untuk membeli mesin dan bahan baku, menyewa lahan, membangun pabrik, mempekerjakan manajemen yang berpengalaman dan buruh. Demikianlah struktur dari suatu industri berdasarkan pemahaman atas 5 M.

M yang ke-6 menurut penulis adalah Market. Atas permintaan pasar (market demand) inilah kelima komponen lain bersatu-padu membentuk suatu industri yang menghasilkan produk tertentu.
Dalam tatanan kenyataan, satu dan lainnya saling berkaitan dan mempengaruhi (mesh). Naik-turunnya permintaan pasar menentukan permintaan akan kuantitas dan kualitas dari kelima komponen industri lainnya. Perubahan atas kuantitas dan kualitas dari kelima komponen suatu industri saling mempengaruhi satu dengan lainnya dan juga mempengaruhi pasar.

Rabu, 08 Februari 2017

Amin dan Amanahnya

Pembaca yang budiman,

Melalui artikel ini penulis ingin berbagi suatu hikmah pelajaran atas perjalanan penulis tentang kehidupan sebagai profesional, amanat tugasnya ... baik sebagai atasan maupun sebagai bawahan... serta ikhtiarnya untuk menjadi profesional yang amanah. Namun kali ini penulis tidaklah mengutarakannya dalam bentuk tulisan, tetapi melalui suatu cerita bergambar. Cerita bergambar ini dibuat di tahun 2014 dengan judul "Amin dan Amanahnya'.




Download Cergam Amin & Amanahnya

Semoga bermanfaat...

Jumat, 02 Desember 2016

Mengembangkan Usaha Berbasis Inovasi

Inovasi dan teknologi dibutuhkan dalam banyak aspek kehidupan manusia. Dari waktu-ke-waktu, manusia mengembangkan teknologi dan berinovasi agar dapat memberikan manfaat lebih bagi manusia lain. Adapun menurut saya, sampai saat ini, kebanyakan orang merasa bahwa mengembangkan usaha berbasis inovasi memiliki tingkat ketidak-pastian yang tinggi, sehingga ia enggan terjun ke dalamnya.

Keengganan perusahaan mengembangkan usaha berbasis inovasi dan teknologi berdampak negatif bagi konsumen. Semangat dan kapasitas entrepreneur yang disalurkan ke dalam suatu sektor industri yang sudah established akan menambah kompetisi dalam industri (Red-Ocean). Penguasaan atas pasar/konsumen terlalu bergantung pada faktor modal dan hubungan. Untuk dapat mempertahankan kekuasaannya terhadap pasar, suatu usaha menggunakan modalnya untuk meningkatkan kualitas hubungannya, dan menggunakan hubungannya untuk meningkatkan kuantitas modalnya. Usaha tersebut enggan berupaya untuk dapat memberikan nilai tambah lebih bagi konsumen-nya (better, faster, cheaper, safer dsb), sehingga tidak terjadi peningkatan potensi bagi konsumen untuk berupaya lebih.

Keengganan tersebut tidak relevan, karena ketidak-pastian dalam mengembangkan usaha berbasis inovasi adalah probabilitas suatu kejadian. Selama perusahaan tekun, sabar dan dapat menjaga kehati-hatian dalam mengambil langkah, perusahaan tidak perlu ragu mengembangkan usaha berbasis inovasi. Sebagai ilustrasi perjalanan, mengembangkan usaha berbasis inovasi dan teknologi terceritakan melalui gambar dibawah (Geoffrey A. Moore & Paul Wiefls). Gambar diagram tersebut dikenal sebagai TALC atau Technology Adoption Life Cycle.


Early Market
Terjadi ketika suatu inovasi/teknologi mulai dapat disalurkan sebagai solusi pada konsumen dan memberikan suatu ROI/nilai tambah.
  • Consumer : Technology Enthusiast & Visionaries
  • Consumer Goal : Competitive Advantage
  • Consumer Need : Potential of Technology
  • Funding : Specialist Venture, Idealism Equity
  • Competition : Category vs. Category
  • Producer Goal : Validate the Technology
  • Strategy : Demo the Technology
  • Skills : Profisiensi Teknologi
  • Style : Evangelism
  • Discipline : Product Leadership
Chasm & Bowling Alley
Chasm terjadi ketika penjualan suatu solusi berbasis inovasi/teknologi stagnan, menurun atau bahkan tidak ada penjualan sama sekali. Bowling Alley terjadi ketika penjualan solusi berbasis/teknologi mulai naik lagi dan menemukan segmen-segmen pasar yang dapat memanfaatkan inovasi/teknologi untuk aplikasi/manfaat/tujuan yang berbeda-beda.
  • Consumer : Visionaries & Early Pragmatist
  • Consumer Goal : Solve Problems
  • Consumer Need : Complete Solution
  • Funding : Sector Venture Capital, Project Financing
  • Competition : Application vs. Application
  • Producer Goal : Segment Share
  • Strategy : Show ROI
  • Skills : Customer Intimacy
  • Style : Consultative
  • Discipline : Product Leadership & Customer Intimacy
Tornado
Terjadi ketika suatu solusi berbasis inovasi/teknologi mulai mendapatkan peningkatan permintaan dari pasar/konsumen secara signifikan. Market Demand Boom.
  • Consumer : Pragmatist
  • Consumer Goal : Adopt new paradigm
  • Consumer Need : Make Safe Choice
  • Funding : General Venture Capital, Bank Financing
  • Competition : Company vs. Company
  • Producer Goal : Market Share
  • Strategy : Gorilla Power
  • Skills : Closing Deals
  • Style : Authoritative
  • Discipline : Product Leadership & Operation Excellence
MainStreet
Terjadi ketika suatu solusi berbasis inovasi/teknologi mulai dapat disalurkan pada konsumen dan memberikan suatu ROI/nilai tambah.
  • Consumer : Conservatives
  • Consumer Goal : Extend Paradigm
  • Consumer Need : Better Value
  • Funding : Packaged Public Investment Product
  • Competition : Product vs. Product
  • Producer Goal : Profitability
  • Strategy : Segment Focus
  • Skills : Relationship Management
  • Style : Transactional
  • Discipline : Operational Excellence & Customer Intimacy

Total Assimilation to Generic Product

Apabila Inovasi berhasil melalui TALC, ia telah berasimilasi dalam pasar menjadi suatu produk yang tenar dan umum di pasar (sudah menjadi produk dengan suatu kategori produk baru). Teknologi tersebut masuk ke dalam Product Life Cycle, sampai kemudian ada Inovasi baru yang membuatnya tidak relevan lagi. Strategy : 4P (Product, Place, Promotion, Price)

Rabu, 10 Februari 2016

Enteprise Architecture


Slide 1: High Level Enterprise Architecture by Stuart L. Whitman

Pada dasarnya enterprise architecture management menjawab pertanyaan besar setiap organisasi seperti; Apakah IT suatu organisasi saat ini telah memberikan nilai tambah yang optimal terhadap Bisnis? Apakah Bisnis saat ini telah didukung IT secara optimal? Apa dampak dari sesuatu perubahan (penerapan suatu standard baru, implementasi teknologi baru) terhadap enteprise secara keseluruhan? Bagaimana suatu enteprise harus dirancang di masa datang untuk menjawab tantangan bisnis?

Enteprise architecture (EA)memandang arsitektur suatu enterprise menjadi beberapa layer, umumnya menjadi: (1) layer proses bisnis (2) layer informasi/data (3) layer aplikasi (4) layer standar teknologi/infrastruktur, untuk kemudian menghubungkan suatu komponen dengan komponen-komponen di layer yang sama atau berlainan (sebagai suatu snippet misalnya: Procurement Process --> Purchase Order --> Procurement Application --> MS-SQL Server --> Dell Server). Keberadaan transparansi ini memudahkan upaya perbaikan proses bisnis karena menyediakan suatu informasi yang menyeluruh mengenai dampak dan keterkaitan perbaikan suatu proses bisnis dengan proses bisnis lain dan infrastruktur teknologi informasi yang mendukungnya. Disisi lain kebijakan teknologi informasi juga dapat lebih terukur dampaknya karena dampak terhadap proses-bisnisnya terdeteksi sejak awal.

Konteks manajemen masuk ketika EA di "PDAC"-kan (plan, do, check, action). EA dijadikan suatu bahasa yang memfasilitasi komunikasi antara LOB (Line-of-Business) dengan departemen IT dalam inisiatif-inisiatif yang berkaitan dengan perbaikan proses bisnis dan/atau penerbitan kebijakan-kebijakan IT (AS-IS vs. TO-BE). EA dijadikan acuan dalam perencanaan, eksekusi dan review dari perbaikan proses bisnis, implementasi/pengadaan perangkat-perangkat IT, pengembangan aplikasi, penerapan kebijakan IT dan sebagainya. EAmenjadi suatu acuan bagi manajemen dalam melihat permasalahan dan merancang solusi berkaitan dengan proses bisnis/IT suatu enterprise. Dengan demikian Enterprise Architecture Management menyelaraskan IT dengan Bisnis.

Walaupun demikian, enteprise architecture pada dasarnya adalah suatu disiplin business optimzation. Nilai tambah terbesarnya adalah suatu sumbangsih pemikiran bahwa waste juga dapat terjadi di departemen IT. Selain daripada itu, dari sisi pandang lain ia menyediakan transparansi terhadap investasi IT sehingga disiplin ini memiliki ketertarikan bagi Auditor dan Finance Manager.



Slide 2: Alfabet's Logical IT Inventory


Apabila anda tertarik enterprise architecture management, Sebagai referensi pembuka (yang dalam pandangan saya obyektif karena hasil internalisasi dari berbagai sumber), anda dapat men-download file kompilasi EnterpriseArchitecture.pdf.

Referensi lain yang cukup obyektif tentang enterprise architecture ini adalah TOGAF.

Sabtu, 20 Desember 2014

Substansi Business Intelligence

Baru di tahun 2007, saya membaca suatu tulisan Business Intelligence (BI) yang disusun dalam perspektif non-IT oleh Scott Moeller & Chris Brady. Dalam tulisannya ia menyatakan bahwa BI adalah suatu hal yang sangat menentukan untuk survival dan sustainability perusahaan.

Dalam setiap situasi dan kondisi, manajemen suatu perusahaan secara berkesinambungan berintrospeksi tentang apa yang sedang dilakukan, apa yang akan akan dilakukan, dan apakah perusahaan sedang berjalan kesuatu arah yang aman/selamat bagi stakeholder dalam jangka panjang. Kebijakan dan keputusan yang berkualitas tentang hal ini sangat amat ditentukan oleh intelligence yang berkualitas.

Kutipan dibawah ini bermanfaat untuk pemahaman kita akan intelligence:

“It will not do to act without knowing the condition; and to know the condition is impossible without intelligence”

Menciptakan intelligence yang berkualitas, dilakukan dengan continuous improvement terhadap sesuatu yang disebut oleh Stafford Beer sebagai “System Four: The Intelligence System”. Beer menyatakan bahwa ada 5 fungsi yang harus ada dalam setiap organisasi apabila ia ingin survive:
  1. System One: Operation
  2. System Two: Coordination
  3. System Three: Monitoring
  4. System Four: Intelligence
  5. System Five: Policy
Perlu juga dipahami bahwa kegagalan intelligence dapat terjadi, walaupun seluruh informasi tersedia, karena kurangnya analisa yang mana hal tersebut dibutuhkan untuk mengambil kebijakan atau keputusan.

Saya tidak setuju dengan pernyataan bahwa System Three: focus on Internal & Present dan System Four: focus on External & Future, karena kelima sistem tersebut menerima input informasi dari, dan memberikan output informasi kepada internal dan eksternal. Perlu disadari bahwa pengembangan sistem seringkali lebih focus on Internal & Present dan kurang focus on External & Future, dan perlu juga diakui Internal & Present lebih mudah dibanding External & Future.

Kalau bisa disebut ‘produk’, System Four menghasilkan output sebagai berikut:
  1. Immediate intelligence; biasanya tersedia 24 jam, bersifat open source, no analysis, alert basis/daily briefing.
  2. Continuing intelligence; suatu analisa regular yang tedokumentasi dalam suatu database penampungan informasi. Produk ini memerlukan monitoring secara konsisten terhadap internal, eksternal, tren, anomali dll yang berpengaruh terhadap survivability organisasi.
  3. Technical Intelligence; biasanya organisasi mendekatkan diri pada lembaga-lembaga riset untuk terus dapat up-to-date terhadap perkembangan teknologi.
  4. Analytical Intelligence; perlu dikembangkan indikator2 yang lengkap. Isinya adalah environment scanning (sektor, peraturan, politik, sosial). Sinyalemen dari lingkungan yang muncul kemudian diperiksa terhadap indikator yang sebelumnya dikembangkan. Untuk menghasilkan produk ini, perusahaan harus mengembangkan absortive capacity, yaitu kemampuan organisasi untuk mengetahui value dari informasi, mencerna-nya dan mengaplikasikan bagi perusahaan. Tidak kalah penting sebagai bagian dari produk ini adalah scenario planning.
  5. Internal Intelligence Consulting; memasukkan analyst dalam tim proyek sehingga ia mampu memberikan input intelligence tepat waktu dan tepat guna.
  6. Activated Intelligence; dilakukan atas permintaan client (internal) dan dibuat khusus untuk permintaan tersebut. Seringkali dibutuhkan ketika negosiasi/kerjasama/perjanjian sedang dilakukan.
  7. Counter intelligence; mencakup aktifitas yang dilakukan untuk melindungi perusahaan agar damage bisa diminimalisir. Sebaiknya hal ini dilakukan atas output System Five. Walaupun sulit dikendalikan, sebelum produk ini di-distribusikan, harus dipikirkan matang-matang efek pantulnya (ricochet effect) agar tidak disesali kemudian.
System Four yang berkualitas dapat membedakan input informasi, dis-informasi (hasil counter intelligence) dan noise. Agar Produk intelligence berkualitas, inputnya harus bersih dari dis-informasi dan noise. Membersihkan input dari dis-informasi dan noise membutuhkan tenaga dan waktu, hal ini tidak perlu dipandang sebagai suatu biaya.

Walupun kita sadar bahwa External & Future intelligence adalah komponen yang substansial terhadap strategi perusahaan; menyakinkan organisasi agar ia mau memandang hal ini sebagai fungsi yang harus dijalankan, tidaklah mudah. Ini suatu permasalahan budaya organisasi, yang sering terlewat dalam Risk Assessment. Adapun perlu disadari potensi insentif intelektual yang didapat individu-individu organisasi apabila ia menjalankannya. Karena bukan biaya, investasi terbesarnya adalah kesabaran dan ketekunan.

 ‘The race for survival in this world is not to the strongest but to the most adaptive’.

Minggu, 27 Juli 2014

Delivering on Tasks

It has always been an aspiration of every person to be able to deliver on his/her accountability… to complete a mission… to finish a task… thereby “at least” two smiles are created upon the delivery, the happy and smile of the person who delivers on his/her task… and the relieved smile of the person who assigned the task. And when the task is so meaningful that it is formulated based on sound principles and good intentions, and where the execution of the task is maintained so that it “does no harm” : the impact of the delivery of the task multiplies… creating smiles beyond the two persons mentioned in this paragraph.

In the mind of the writer, the word “accountable” translates to the same meaning to the word “amanah” in Indonesian.  With both words in mind, we become respectful to an object of accountability that is task, a state where a person does not take lightly the assignment of task and the acceptance of accountability. We should observe the person who assigns a task, that person holds the delivery of that task dear to him, whereby a non delivery of that task is something that is an object of unhappiness and burdensome. Let us also observe the person who accepts the accountability of delivering the task… upon the acceptance of the task, the person who accepts the task is suddenly liable of the “delivery of the task”. The task has become a promise, whereby one made a promise to deliver a task to the other. At a point in time afterwards, the fulfillment of that promise relieves the one that accepts the task from being liable … and that fulfillment also produce happiness to the one who receives the fulfillment of that promise, whom is the one who assigned the task.

An example of such is when your husband fix your broken laptop… both of you are happy. Or when a manager whom is a subordinate of yours achieve his/her target… or when your company gets that ISO certification. What was your experience? What did you as a group experience? How was the flow?



At work, we assign and accept accountability… we assign and accept tasks. We are happy when a task that we assigned to others is fulfilled and happy when a task that we accepted is delivered… and we worry when what happens is the opposite. The objective of the conversation that we are having through this article is to ensure that the opposite does not happen. Thereby we may become a person with a characteristic known as “accountable”... and thereby become and contributes to a society that is not only happy... but also delivers to itself and to others.

Clarity and Purpose

It has been concluded by the understanding and experience of the writer, that the problems of tasking is to have clarity. Ask yourself the questions; how often did you accept a task that is somewhat hazzy? how often did you assigned an unclear task? What happened during the execution of that hazzy/unclear task? Were there frustration? Where there grievances? With the answers in mind, then comes the question: “What is a clear task?”.  Based on consults, experience and reasons, I think you would agree with me that a clear tasks constitutes of four elements:
  1. The goals, with clear expectation on what is to be delivered (quality/quantity) and by when (dd/mm/yy).
  2. The method of execution employed to reach the goals.
  3. The resources required for the execution towards that goals
  4. The boundaries and limits that constraint the execution towards that goals
What was often skipped by both the person who assigns the task and the person who accepts the task is the process to have that clarity, even when both have that thrust of will to finish the task. This process can be termed as “task formulation”… a discussion… a conversation… (that can be carried out over a duration as short as a phone conversation to as long as many long deep discussions) in between a person who is going to assign the task and a person who is going to accept the task… towards having a “clear task” whereby one can say “I assigned this task to you” and the other can say “I accept this task from you”.

This practice of task formulation is a “must”… it mitigates the risk where one creates the illusion of being able to assign a task and being able to accept a task. Having that clarity gave comfort that a task can and will be delivered as expected... while at the same time saves us from expecting an delivery of a not yet possible/not yet realistic task, hence the word “illusion” was used.

There is another that is of most importance but not at the same dimension with that four elements of a clear task, that one is what we call the Context of the Task. In my perspective, the context of the task creates the drive, the spirit, the thrust, the motivation, the perseverance, the flexibility if not innovativeness, the rigidity if not the firmness that surrounds the execution of the task towards reaching the goal. The context discusses and explain the why of the task, the meaning of the task, the importance of the task, the priority of the task in comparison to other tasks, what does it mean for the organization, for a community, for a country, are there or will there be any other persons/units doing another task that intertwines with the task being discussed, will the task branches to another tasks, are there related task, is the task a routine one or an emergency one..

Thus a task with a clear context wills a task to be purposeful, thereby warrants the dutifulness during execution, thereby also contributes greatly in the certainty of task delivery. What needs to be reminded though… is that what can come also with a purposeful context is the desire to start executing an unclear task, so it is always best and save to utilize that desire towards the creation of clarity of the task.

Easy and Hard

When you know enough about the work required to complete a certain task (have experienced it before), you’ll find it is easy to define the task and grasp its context. Thereby you will find it also easy to spot the risk on whether to assign or not a certain task. Easy for the task giver to have that conclusion of “I am confident (or not) that you can deliver on the task”… Easy for the task bearer to have that conclusion of “I am confident (or not) that I can deliver on the task”. And when the giver and the bearer are both confident, then we have that situation of assigned and accepted.

But there were times … there will again be times… when we… especially as a person who will be assigning a task… don’t know enough about the work required to complete a task, then the process of formulating a task becomes lenghty. The process requires deep discussion, knowledge sharing, research, reasoning and learning while absorbing of data, information and knowledge while time does not sit still. And all that needs to be done to have that clarity and also to have a better context. At that point in time where we become confident, we have clearly define the task (the goals, the method of execution, the resources required, the boundaries and limits of execution) and also the context. In short: we have clear plan of actions and we are confident on the execution. Then it becomes easy…

An example of a quite lenghty task formulation is the process to come up with a company one year budget plan… I believe it has become a norm for every medium sized company to do this… the process takes the duration of at least two months. Within that process you realize the volume and intensity of self learning, group learning, clarification, context setting and other communication that happens horizontally and vertically within the organization. All that… so that the management of the organization can be de facto certified accountable at the end of next year for that 12 months plan that it creates.

Realizing so… we can have empathy on the complexity of formulating, assigning and accepting complex tasks to have a national container terminal starts operational by dd/mm/yy… or the complexity to task the launching of iphone 6 at Semester 2 last year… or the complexity to task a five year business and organization journey.

Bare in mind these states of drive in the lifecycle of our work:
  1. when people in organization start initiating tasks, when they work together to have clarity and purpose
  2. when people in organization assign and accept clear and purposeful tasks
  3. when people in organization execute the tasks and when team working are happening between givers and bearers
  4. when people in organization celebrate the completion of a task, where bearers fulfill the promise to givers
  5. when new situation unfolds a barrier not yet seen during task formulation, when that change challenge the thinking in task execution... risks changing agreed methods and resources requirement.
  6. when new situation unfolds a change of context, where affected tasks that is being executed wills redefinition and sometimes cancelation (for sigh or for sorrow)
  7. when people in organization who completes a task may have other related tasks that is not yet completed
  8. when the task is actually a task that change the state of the people within the organization itself
  9. when the risk of failing on the tasks risks people not just within the organization
I think the science/art of tasking is a subject not to be taken lightly, because the practice means so much to creation of a culture of accountability. We may fall short from time to time on the practice of accountability, thereby this article may serve as a reminder to the writer as well.

Sabtu, 19 Maret 2011

Self Governance & Amal Saleh

Istilah governance sering terdengar di telinga insan profesional perusahaan. Dalam ingatan penulis, istilah ini didengungkan di Indonesia melalui praktek Good Corporate Governance (GCG) di akhir tahun 1990an pasca krisis ekonomi. Promosi governance dilakukan karena ditemukan banyak kerusakan terhadap ekosistem kemasyarakatan dan lingkungan hidup yang terjadi karena insan ekonomi menyalah-gunakan kekuasaannya. Insan tersebut menyalahgunakan kekuasannya dengan mengoptimalkan posisi... sebagai pemilik, pengelola, direktur, atasan, pemegang saham, komisaris, anak, bapak, istri, kakak, adik, sepupu, cucu, saudara jauh, teman SMA dsb... dengan campur aduknya... untuk memaksimalkan suatu bentuk keuntungan duniawi pribadinya semata; lupa dan/atau tak sadar bahwa keuntungannya itu dapat mengakibatkan kerugian/kerusakan bagi khalayak yang lebih ramai.

Di tahun 2006, penulis pernah diingatkan oleh seorang rekan yang saat ini sudah menjadi professor dibidangnya, katanya," pilih mana pak, mau hidup cukup tapi kalau suatu saat susah banyak tetangga yang mau nolong... atau mau punya banyak uang tapi nggak ada yang mau jualan makanan kepada bapak... pilih mana pak? ". Penulis berterima kasih kepada rekan tersebut atas peringatan tadi, dan memang pada masa itu penulis berada di tahap awal kesadaran untuk menegakkan self-governance... atau amal saleh dalam pemaknaan istilah penulis sekarang.

Apabila pembaca dalam mood yang lebih santai, silahkan download tulisan ini dalam format komik.

Konflik dalam diri dan hubungan

Dalam perjalanan karir pembaca, pernahkah pembaca berada dalam situasi yang canggung/aneh ketika anda memiliki hubungan dengan orang lain secara pribadi sekaligus profesional? Bagaimana anda akan mengambil sikap, keputusan dan mengelola hubungan tersebut? Apabila namanya adalah Budi, apakah anda panggil ia Om Budi atau Pak Budi? Anda mempunyai dua hubungan dengan Pak Budi, hubungan sebagai paman dan hubungan sebagai atasan. Kapan... atau ketika apa... anda panggil ia Om Budi? Dan ketika apa anda panggil ia Pak Budi?

Apakah ketika anda gagal perform terhadap Pak Budi atasan anda, anda kemudian mengadu pada Ibu/Ayah anda untuk merayu Om Budi? Apakah ketika Pak Budi bertabiat menyimpang dikantor, Pak Budi akan bilang kepada anda "jangan bilang-bilang papa-mama nanti urusanmu aku gampangkan...". Atau... apakah anda yang akan mengancam "Pak Budi, kalau bapak tidak gampangkan urusan saya, akan saya adukan kelakuan bapak kepada mama dan papa"...

Paparan dalam paragraf diatas adalah tantangan self-governance. Tantangan tentang bagaimana mengambil keputusan untuk bersikap, berucap dan berbuat dalam kenyataan bahwa hubungan pribadi dan profesional bercampur-aduk. Apakah akan anda pisahkan sepisah-pisahnya? Apakah akan anda hilangkan kewajiban jiwa anda dalam menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan/keburukan? Apakah anda akan marah tentang urusan pribadi di rapat kantor, ataukah bersikap dingin dan apatis pada makan malam keluarga? Atas landasan fundamental atau dasar pemikiran apa anda marah atau apatis di setiap situasi dan kondisi? Pantaskah anda marah akan urusan pribadi di kantor? Pantaskah anda apatis terhadap pengerusakan lingkungan? Apabila anda telah bersikap pantas, apakah anda melakukannya sebagai suatu teknik manipulasi atas niat akumulasi keduniawian anda? Atau apakah anda melakukan kepantasan tadi sebagai suatu teknik amar ma'ruf nahi munkar atas niat ikhlas mengingatkan?

Dari definisi kata... Governed ber-sinonim dengan kata ruled (sadar aturan) dan juga controlled (terkendali) dan ber-antonim dengan kata unruly (tidak tau aturan). Penerapan self-governance berniat mencegah seseorang menyalahgunakan kewenangan/kekuasaan profesionalnya untuk kepentingan pribadi, disaat yang sama juga menuntut seseorang berfikir, bersikap dan bertindak adil (dan juga pas, pantas dan pada tempatnya) dalam kapasitas profesional dan pribadinya.

Fit and Proper Deeds

Etimologi kata saleh, diambil dari bahasa arab yang berarti good deeds, fit and suiting deeds. Atas dasar itulah penulis ber-kesimpulam bahwa apa yang dimaksud dan dituju oleh governance dicakup oleh amal saleh.

Begitu tegas tuntutan governance di industri perbankan negri ini, sampai-sampai seorang direksi atau komisaris suatu bank tidak boleh menjabat sebagai direksi atau komisaris di lebih dari dua perusahaan lain. Kebijakan yang membatasi peran ini, berusaha mencegah penyalahgunaan wewenang sebagai pengurus bank, dalam kolusi internal diri sebagai pengurus di perusahaan lain. Demikianlah godaan kekuasaan dan tantangan amal saleh.

Kebijakan pembatasan peran, ditegakkan sebagai suatu hikmah pelajaran atas penyalahgunaan wewenang yang berakhir dengan krisis 1997. Penulis bersangka, bahwa para pejuang kebijakan telah berfikir keras, bermusyawarah dan kemudian men-sahkan kebijakan ini mendasarkan pada pemikiran dan data. Mereka telah melalui suatu dinamika polemik besar tentang prasangka baik dan buruk terhadap insan-insan di sektor finansial dan sektor riil, yang tak lain adalah dirinya sendiri juga. Atas upaya tersebut, penulis sampaikan hormat penulis karena perjuangan amal saleh insan-insan tersebut. Dengan semakin stabilnya ekonomi makro negri di dekade kemarin, terasa berkah Yang Maha Menjaga atas penerapan kebijakan tadi.

Amal saleh sebagai profesional dan pengusaha penting kedudukannya dalam menjaga kestabilan ekonomi lingkungan, namun... pembaca (termasuk penulis) jangan melupakan amal saleh sebagai bapak/anak/istri/kakak/adik/teman/tetangga dan sebagainya. Yang dimaksud adalah untuk tidak ekstrim/radikal/berlebih-lebihan dalam beramal sebagai profesional dan pengusaha sehingga lupa beramal kepada suami/istri, anak, keluarga, teman dan tetangga yang jauh dan yang dekat. Jangan pula lupa makan, minum, tidur dan kebutuhan biologis lainnya sebagai manusia biasa. Tidak lengkap pula tanpa kewajiban/kebutuhan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kita dikaruniakan kemampuan untuk dapat mendudukkan urusan-urusan secara pas dan pada tempatnya, dengan kesadaran bahwa hasil adalah urusan Allah SWT.

Tidak sia-sia dalam keyakinan penulis. Amal saleh dihargai sebagai amal terbaik oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh seorang kawan, 'amal saleh' dinyatakan sebagai suatu amal yang tingkatannya diatas 'amal baik yang banyak'. Seseorang yang beriman dan beramal saleh diberikan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Seseorang yang beriman dan beramal saleh dijanjikan suatu kehidupan yang melegakan dan menyenangkan secara abadi di kehidupan akhirat dari Sang Pencipta.

Salam Penutup

Penerapan amal saleh bagi diri pembaca dan bagi diri penulis bisa berbeda, walaupun dalam prinsip tetap sama, sehingga sangat kasuistik. Untuk setiap kasus/perkara/masalah yang ditemui dalam perjalanan, amal saleh membutuhkan ketekunan ikhtiar dan ijtihad (pengusahaan dan pemaknaannya). Dalam perjalanan ikhtiar dan ijtihad itu, Insya Allah ditemukan dan diperkokoh format-format pengawasan diri. Sedemikian sehingga disiplin beramal saleh, meningkatkan probabilitas kemenangan nafsu baik atas nafsu rendahan di dalam diri.

Bagi penulis, amal saleh bukanlah suatu urusan sepele canda-gurau warung kopi, walaupun anjuran ini bisa disampaikan kepada teman dan sahabat dengan bahasa yang ringan dan senyum tawa ikhlas sambil nongkrong nyeruput kopi es. Doa seseorang yang beriman dan beramal saleh kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia, adalah suatu suplemen pahala bagi almarhum. Oleh karenanya, iman dan amal saleh merupakan bakti diri dan ucapan terima kasih pada orang tua.

Salam

Sabtu, 15 Januari 2011

Perusahaan dalam Perbaikan Lingkungan

Perusahaan adalah suatu badan hukum (bisa ada karena dilegalkan oleh suatu pemerintah negara) yang dibentuk sebagai wadah bagi pemiliknya untuk mengusahakan keuntungan dan pekerjanya untuk mengusahakan nafkah hidup. Dalam konteks sistem industri, perusahaan adalah gabungan dari man, money, machine, material dan method. Skala perusahaan dapat diukur dari berbagai macam sudut pandang, misalnya wilayah operasi, jumlah pekerja, besaran aset yang dikelola, pendapatan/sales/revenue tahunan dsb. Biasanya perusahaan memfokuskan diri pada suatu jenis/klasifikasi usaha; misalnya asuransi, perdagangan komoditas, pertanian, food and beverages, pertambangan, perbankan, telekomunikasi, teknologi informasi, pertambangan, kimia, transportasi dsb. Dari sudut pandang klasifikasi ini kemudian diambillah suatu kebijakan ekonomi makro oleh otorita. Betapapun mikro-nya, seorang pedagang nasi goreng gerobak juga dapat dianggap sebagai perusahaan.

Dalam perjalanan 2 dekade ini, kita telah menyaksikan berbagai kemalangan (misfortune) yang menjadi resultan ke-aktif-an dan/atau ke-nonaktif-an perusahaan. Kemalangan ini berbentuk seperti lenyapnya tabungan/investasi nasabah, kandungan racun kimia dalam bahan pangan dan air bersih, ancaman phk dalam skala massal dan fluktuasi pasokan dan harga bahan-bahan pokok. Disisi lain, perusahaan dengan keahlian yang pas sebetulnya juga dapat memilih untuk aktif mencegah banjir pemukiman kota tanpa invoice dalam kewajaran arus kas. Selain itu, perusahaan juga bisa memilih tidak riya' dalam melakukan CSR kepada masyarakat. Permasalahan yang dipaparkan diatas sebetulnya lebih sedikit tentang aturan pemerintah dan/atau desakan masyarakat, dan lebih banyak tentang kesadaran dalam diri pemilik, pimpinan dan profesional perusahaan bahwa bekerja adalah ibadah.

Tabligh intrasektoral dan intersektoral

Tabligh, adalah suatu predikat sikap dan sifat nabi-nabi. Tabligh dalam arti bahasa berarti menyampaikan dengan terang dan jelas. Di era ini, arti, pelaksanaan dan tujuan tabligh, menjadikan satu makna sinergi, knowledge management, organization development, keberanian, governed, teratur, konsisten, integritas, amal saleh, kekompakan, perbaikan diri, perbaikan cara dan perbaikan lingkungan. Bertabligh memfasilitasi terbentuknya indvidu yang membangun sistem, yang mana kemudian mengarah menuju suatu tujuan/visi. Bertabligh-pun memiliki tahapan; dimulai dengan penyampaian akan nilai-nilai (sosialisasi), kemudian tahapan pemikiran dan pemaknaan (internalisasi), kemudian merubah pemikiran dan pemaknaan tersebut menjadi aktivitas nyata melalui latihan kerja (pembentukan), kemudian dilanjutkan dengan pengarahan aktivitas kepada hasil; yaitu penyusunan barisan, koordinasi dan kontrol aktivitas (strukturalisasi). Yang kelima adalah mengarahkan hasil pada tujuan (operasionalisasi).


[Diagram Big Change Dynamics by Sector oleh Steve Waddell]

Marilah kita simak diagram diatas yang ditulis dalam buku Societal Learning and Change oleh Steve Waddell. Dari diagram dapat kita fahami bahwa kita hidup sebagai profesional dalam suatu market system, sebagai warga negara dalam suatu state system dan sebagai masyarakat biasa dalam suatu civil society. Masing-masing sektor mempengaruhi satu sama lain dan juga di didalam sektor itu sendiri. Pengaruh ini dapat berperan secara positif maupun negatif terhadap stabilitas sektor. Kenyataan lapangan memang lebih kompleks dari tiga sektor yang tergambar dalam diagram diatas, dimana sektor juga bisa dipandang dari sudut pandang bidang/jenis usaha, disiplin ilmu, geografis, demografis dan psikografis. Diagram diatas hanya dipergunakan untuk memulai pemikiran dan memahami makna intersektoral dan intrasektoral.

Sampai bagian ini, penulis berharap pembaca dapat memahami istilah tabligh intersektoral dan intrasektoral, dengan preferensi penggunaan kata tabligh dan bukan sinergi, kerjasama atau kooperasi karena makna tabligh yang lebih mengena dan selaras dengan artikel ini.

Pengorganisasian dan Struktur

Ada 2 jenis usaha yang secara rasional dapat mengupayakan tabligh intersektoral dan intrasektoral secara formal, organisasi itu adalah konglomerasi usaha dan lembaga keuangan. Selain itu tabligh intersektoral juga diupayakan oleh pemerintah negara dan organisasi masyarakat. Dari sudut pandang bottom-up (mikro), perusahaan UKM-pun dapat mengupayakannya dalam interaksinya dengan perusahaan lain, institusi pemerintah terkait serta aktifnya insan perusahaan dalam sektor sosial kemasyarakatan. Dari pandangan top-down maupun bottom-up, dalam ber-tabligh para pihak diharapkan dapat mengkombinasikan unique strength dan meng-offset weakness, sehingga mengoptimalkan manfaat sosial secara lebih luas.


[Diagram Society Learning & Change Structure oleh Steve Waddell]

Steve Waddell juga memaparkan bahwa society learning and change (SLC) dilakukan dengan inisiatif berbasis network. Setiap tipe network menentukan kemampuan network menghasilkan output dan juga menentukan tingkat/jenis keahlian yang dibutuhkan dalam mengelolanya. Proses utama didalam network mencakup pergerakan dalam pendayagunaan data --> menjadi informasi --> menjadi knowledge --> menjadi hikmah --> kemudian menjadi aksi yang memberikan dampak pada lingkungan. Sebagai penguraian, berbagai tipe network didaftarkan oleh Steve Waddell berdasarkan proses, dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks, daftar tersebut adalah sebagai berikut:
  • INFORMATION NETWORK This is the most often what people think of when they think of a 'network'. Through it, participants share information about a common interest, with bonus on them to do so. It does not develop a common agenda.
  • KNOWLEDGE NETWORK The goal is to produce new knowledge, skills and tools for those in the network. It has a defined research agenda, and participation allows sharing costs and enhancing access to data.
  • COMMUNITY OF PRACTICE Participants share and developed information, knowledge, wisdom and capacity. This requires deep dialogue, open sharing and self-organized, joint-action development agenda. Benefits of participation include much more rapid development of solid an robust answers to questions and common interest.
  • TASK NETWORK When people want to undertake a specific task that requires diverse resource and co-ordination of action, they may form a network that dissolves after completion.
  • PURPOSEFUL NETWORK Often an issue requires ongoing attention by a group of people or organization, and they come together to co-oordinate their action, they may form a network that dissolves after completion.
  • SOCIETAL CHANGE NETWORK This type of network produces SLC among members who are inter sectoral. The members are issue stakeholders, who undertake deep dialogue and open sharing, and collectively co-ordinate and synergistic action. The change requires their collective competence and networks.
  • GENERATIVE CHANGE NETWORK SLC is also produced by this type of network, but the goal is to generate innovation/change/action beyond the participant boundaries. The work is done for network members and those beyond – expanding participation and influence is important. Again, it requires deep dialogue and open sharing, and collective coordinated an synergistic action. The work is done collaboratively because it requires collective competences and scales.
Pengklasifikasian diatas dapat dijadikan referensi, namun jangan sampai membelenggu upaya perbaikan lingkungan dan terjebak dalam kalam definisi. Karena pada semestinya, jiwa kebersamaan dan gotong royong adalah suatu suratan bagi yang meyakini, lagi pula pahit-getirnya individualisme telah dan sedang dirasakan. Klasifikasi diatas dapat dihormati sebagai simplifikasi kenyataan lapangan untuk menjadi suatu penerangan bagi yang kurang faham. Ambil saja intisari pesan baiknya, “bahwa perbaikan lingkungan (1) membutuhkan sumber daya kolektif dari banyak stakeholder (2) pelaksanaannya tidak boleh semrawut dan (3) harus didasarkan atas hubungan saling percaya antar stakeholder agar deep dialogue, open sharing serta collectively coordinated and synergistic action dapat direalisasikan”. Sebagai akhir pesan di bagian ini, perlu pembaca fahami, bahwa kedudukan aturan klasifikasi diatas adalah rendah… sangat dan jauh lebih rendah dibandingkan firman Allah dibawah ini:

Verily, Allah loves those who fight in His Cause in rows (ranks)
as though they were a (single) structure joined firmly.

[Al Quran, surat ke-61: As Saf, ayat 4; dari terjemahan Muhsin Khan dan Sahih International]

… dan demikian juga sangat rendahnya kedudukan artikel-artikel penulis dibandingkan dengan firman Allah. Oleh karenanya janganlah kemudian karangan penulis, ataupun klasifikasi Steve Waddell dijadikan kekangan dalam berbuat baik.

Sabar, Merdeka dan Produktif

Setiap negri dihadapkan pada resiko mubazirnya sumber daya akibat ketidakselarasan proyek-proyek intersektoral dan intrasektoral. Terjadinya resiko kemudian biasanya dilanjutkan dengan drama tunjuk menunjuk antara calon kambing hitam di dalam dan/atau di luar negri. Wadah formal intersektoral yang niat awalnya adalah sarana kerjasama dalam membangun insan dijadikan sasana kompetisi dan penguasaan oleh individu perusahaan. Kecenderungan ini-pun terjadi di dalam wadah informal intrasektoral (tanpa menafikkan pentingnya sosialisasi/silaturahmi).

Kondisi diatas mengakibatkan tidak kondusifnya kerjasama karena permasalahan trust, akibatnya... apa boleh buat... masukan dan keluaran wadah harus dibersihkan dahulu agar dapat diketahui mana yang informasi, dis-informasi dan noise, sebelum menterjemahkannya dalam melaksanakan aksi. Pembersihan ini memakan waktu dan tenaga, karena pengupayaannya adalah melalui pengecekan langsung ke lapangan, diskusi dengan berbagai stakeholder di penjuru negri, gerilya di warung-warung kopi dan working level, penyusunan ulang data-data dan informasi berikut analisa serta sintesis-nya, permintaan kesaksian konfirmasi dari penerbit informasi yang berintegritas didalam wadah, dsb. Namun demikian, hal ini jauh lebih baik dibandingkan menelan mentah-mentah kesimpulan top-down yang dibuat berdasarkan data yang korup dan/atau tenaga ahli yang tidak sungguh-sungguh bekerja. Mendasarkan aksi pada informasi yang sah secara de jure tidak akan membuat anda masuk penjara, namun penulis berharap pembaca dapat merasakan suatu kenikmatan hidup dan senyum bahagia ketika melaksanakan aksi berdasarkan informasi yang terkonfirmasi secara de facto. Besar kemungkinan kondisi dapat menjadi lebih baik apabila pemimpin dan profesional menimbang manfaat dan mudarat secara ekosistem, dibandingkan sekedar menjalankan formalitas atau melaksanakan keputusan impulsif.

Amanah negri dan lingkungan mudah terlupakan oleh profesional peniti karir dan pengusaha peniti laba, walaupun satu dekade lalu ia memulainya dengan suatu niatan suci. Kemudian kita temukan individu-individu tersebut sedang asyik ditengah kompetisi, harga diri, jalan pintas relasi dan akumulasi kemewahan… malas belajar tetapi khawatir tergilas "rekan" dan zaman. Untuk pertama kalinya dalam blog ini, penulis menyertakan firman-firman Allah dalam artikelnya, Insya Allah menjadi efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran. Berharap intisari peringatan dapat masuk bersemayam dalam ingatan, pikiran dan hati... tanpa pupus harapan, bahwa Insya Allah individu yang khawatir dan terlengahkan dapat sadar sehingga berganti hobi asyik menikmati tabligh, menggali knowledge, beramal saleh, lengkap dengan pertempuran hati dan ujian sabar atas terjadinya hantaman-hantaman jiwa dalam perjalanan.

The craving for ever-greater worldly gains and to excel others
in that regards keeps you occupied 
(diverts you from more serious things), 
until you visit your graves. 
But, nay, you soon shall know (the reality). 
Again, you soon shall know! 
Nay, were you to know with certainty of mind
(what your attitude will lead to, 
you would never have acted the way you do).
You shall certainly see Hell Fire! 
Again, you shall see it with certainty of sight.
Then shall you be questioned that Day about the joy 
(you indulged in)!

[Al Quran, surat ke-102, At Takasur; dari terjemahan Yusuf Ali & Maulana Maududi]

Memerdekakan diri juga berarti sabar/tabah/tekun atas tabir produktifitas dan pengekangannya. Yang paling awal perlu dibahas adalah tentang norma predikat tenaga ahli dan kampiun industri. Pendalaman keahlian teknis dalam suatu bidang ilmu dan keahlian non-teknis industri mutlak untuk lebih terjaminnya penyelesaian permasalahan kerja. Namun fokus tadi tidak berarti kita mengeksklusifkan diri dari mempelajari bidang lain atau bercengkerama dengan sektor lain. Sangat terkait dengan peringatan dalam At-Takatsur, paradigma predikat menjebak dan membelenggu diri sehingga menghalangi tabligh intersektoral dan intrasektoral.

Yang berikutnya perlu dibahas adalah tentang pengekangan produktifitas dari kualitas kerja dalam setiap man-hour, yang mana kualitas adalah cermin dari bekerja sungguh-sungguh. Untuk mengekangnya, kompetisi dapat bekerja kedalam sistem dan pola berpikir untuk membuat perasaan sedih dan khawatir yang menyebabkan insan profesional berkonsentrasi hanya pada satu hal saja dan terpalingkan dari hal-hal lain yang juga penting, sehingga mengganggu efektifitas dan efisiensi sistem secara keseluruhan. Selain kompetisi, kejadian kehidupan secara alamiah juga dapat mengakibatkan hilangnya konsentrasi. Karena sudah menjadi suatu kepastian bahwa perasaan sedih dan khawatir akan menghampiri sepanjang kehidupan ini, maka kesabaran dan ketabahan Insya Allah akan manjur dalam menghadapinya. Tidak lengkaplah pertahanan ini tanpa adanya ketekunan penyelesaian masalah, mempelajari sebab-musabab relung-relung permasalahan, pikiran dan hati dalam rangka mencari hikmah. Sedangkan atas terjadinya hantaman-hantaman, karena memang sudah terjadi, keikhlasan akan sangat membantu menawar hati.

Siskamling Intelektual

Apabila pembaca meng-google kata "siskamling", pembaca akan temukan tulisan Muh. Arif Billah. SH dari kota Probolinggo tertanggal April 2010. Dalam tulisannya ia mengatakan, “Kebiasaan dan budaya warga 10 tahun silam yang dilakukan secara gotong royong oleh warga semakin memudar karena kesibukan dan mulai menurunnya nilai-nilai kebersamaan serta menguatnya rasa individualisme. Siskamling yang dahulu peran aktif warga berubah menjadi tugas satpam lingkungan, kebiasaan ronda nyaris tidak terdengar lagi. Pos ronda sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat nongkrong sore atau tempat jualan nasi pecel di pagi hari".

Menambahkan tulisan Muh. Arif Billah, peran siskamling tidak hanya untuk mencegah maling dan teroris dalam konteks teritorial, tetapi juga sebagai suatu konsep dalam kebersamaan melanggengkan lingkungan yang aman dan tentram multi-sektoral. Siskamling mencegah terjadinya resiko hazzard (ATHG: ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan) terhadap lingkungan. Siskamling dilaksanakan berdasarkan kesadaran diri insan profesional dan dilakukan dengan pendekatan di unit yang kecil. Apabila 10 tahun silam unit yang kecil tadi adalah keluarga dan lingkungan, maka sekarang dapat diperkuat dengan unit kerja, bidang ilmu dan sektor industri dimana kita mencari nafkah. Selanjutnya ketika bencana datang, siskamling akan menjadi garda terdepan dalam antisipasi dan menyadarkan warga ketika terlelap. Tidak hanya tugas prajurit yang harus menyadarkan warga untuk menjaga kedaulatan, siskamling-pun ikut berperan dalam wujud konsep bersiap-siaga di perbatasan teritorial geografis dan non-geografis negri. Insya Allah tercipta rasa bahu-membahu dari sebuah siskamling.

O you who believe! Endure and Perserve in patience and constancy; 
vie in such endurance and perseverance, remain steadfast and strenghen each other;
and fear Allah; that you may be successfull

[Al Quran, surat ke-3: Ali Imran, ayat 200; dari terjemahan Yusuf Ali dan Shakir]

Atas perintah dan alasan logika tadi, maka menjadi kewajiban bagi insan profesional untuk saling berbagi kesadaran, hikmah, ilmu dan pengetahuan (knowledge sharing and prosuming). Adapun dalam rangka siskamling sedapat mungkin profesional awas terhadap knowledge trading karena berpotensi menjadi suatu intangible liability yang melemahkan (baca: utang budi). Mengelola hubungan dalam sharing membutuhkan suatu governance yang berdasarkan hubungan saling percaya. Dalam hubungan tersebut, satu sama lain wajib menghormati jerih upaya pihak yang memproduksi knowledge sebagai pemberi solusi, dan menghargai kebutuhan pihak yang mengkonsumsi knowledge sebagai pengguna solusi. Penghormatan dan penghargaan ini tidak berarti memaksakan intellectual property, agar supaya insan negri dapat semakin merdeka, kuat kesabarannya dan produktif.

Penanganan ATHG (ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan) lingkungan dalam siskamling intelektual sangat terkait dengan penanganan kezaliman penyalahgunaan amanah knowledge. Secara konsisten insan profesional dapat saling mengingatkan dan menyadarkan akan dampak penyalahgunaan sebagai pencegahan. Apabila sebelumnya pernah terjadi, mungkin terjadi karena kurangnya tabligh didalam atau diantara sektor. Untuk mendeteksi dan mencegahnya, insan profesional tidak boleh malas belajar dan terus mengaji secara berkelanjutan untuk mencari hikmah. Ada kalanya insan profesional perlu bersikap tegas namun tidak berlebihan untuk menghambat dan meniadakan suatu tabiat yang berakibat buruk bagi lingkungan.

By (the Token of) Time (through the ages),
Surely man is indeed in (sheer) loss,
Except the ones who have believed, and done righteous deeds,
and enjoin each other to the Truth, and enjoin each other to patience/steadfast.

[Al Quran, surat ke-103: Al Asr; dari terjemahan Yusuf Ali dan Dr Ghali]

Tidak tanpa resiko, setiap pelaksana siskamling intelektual juga akan berhadapan dengan prasangka buruk, kecurigaan dan kedengkian. Karena tidak populer, siskamling intelektual juga mungkin menerima resiko sosial seperti pengasingan, celaan dan ejekan, ditambah dengan resiko lain secara fisik dan finansial. Namun demikian, pelaksana dapat menjadikan siskamling intelektual membahagiakan dengan mengikhlaskan keberadaan ATHG dan tersedianya sasana penguatan sabar. Tidak kurang pula pertempuran yang terjadi didalam diri pelaksana, sehingga ia harus konsisten menyapu bersih resultan negatif pemikiran pembanding materialisme. Kemudian selanjutnya dibarengi pengemisan ampun atas kekhilafan kepada Allah SWT dan memohon bantuanNya dalam mengendalikan nafsu. Dalam kesadaraan bahwa Allah-lah penguasa atom pembentuk materi dan medan elektro-magnet di bumi serta angkasa raya. Seluruh materi di bumi dan angkasa raya bertasbih memuji Allah. Dan Allah pula lah zat yang membolak-balikkan hati. Oleh karenanya pelaksana siskamling memohon bantuanNya.

Pelaksana siskamling tidak perlu merasa rendah diri maupun tinggi hati karena kecil-besarnya kedudukan dalam perusahaan atau karena rendah-tingginya kedudukan secara pendidikan, karena sejatinya siskamling adalah aktifitas warga. Siskamling tidak mengenal kasta ataupun dinding pembatas divisi oleh karenanya dapat dilakukan top-down, bottom-up maupun sideways dalam tabligh.

Siskamling intelektual perlu dilakukan optimal, tanpa mengabaikan siskamling lain, terutama di sekitar rumah dan keluarga. Selain bekerja untuk mencari nafkah, insan profesional juga memiliki kewajiban mengurus keluarga secara non materiil. Tidak hanya tentang adanya kecukupan materi dan liburan bersama, dibalik pengupayaan mengurus keluarga dan dinamikanya... ada karunia yang tidak kalah besarnya dibandingkan dikantor. Berhasil tidaknya insan profesional dikaruniai anak/istri/suami yang saleh bukanlah semata-mata karena pengupayaan insan atau penerapan logika-logika psikologi, namun sesungguhnya merupakan karunia dan ketentuan dari Allah SWT.

By the Glorious Morning Light, 
and by the Night when it is still,
Your Guardian Lord has not forsaken you, nor is He displeased,
Surely what comes after will be better for you than the present,
Verily Your Guardian Lord will give you all-good 
so that you will be well-pleased
Did he not found as an orphan and give you shelter?
Did he not found you lost and give you guidance?
Did he not found you in need and give sufficiency?
Therefore, do not treat the orphan with harshness
Nor repulse the petitioner (unheard/seeker of knowledge)
And for all the good that your Lord blessed you with, do announce…

[Al Quran, surat ke-93: Ad Dhuhaa; dari terjemahan Yusuf Ali dan Dr Ghali]

Penutup

Melalui tulisan ini penulis memang melakukan suatu pemaparan persuasif kepada pembaca, dalam kaitannya agar sumbangsih insan profesional perusahaan, sebetapa besar-kecilnya, untuk perbaikan lingkungan. Sebagai penutup, marilah kita simak pesan/sabda peninggalan Rasul Allah, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam:

Sungguh jika seorang muslim (insan yang berserah diri kepada Allah) berinteraksi dengan masyarakat dan sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka (akibat interaksi), lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka.

[HR. at-Tarmidzi, no. 2431/no. 2507]

Dalam kerendahan upaya penulis, teriring salam bagi pembaca:
Walbillahi taufik wal hidayah”…